Tax Amnesty Yang Kena
luar negeri,
maupun mereka yang berstatus karyawan. Program ini disinyalir tidak kena
sasaran.
Kenapa? Karena tujuan awal dari program tax amnesty ini untuk menyasar
para pengusaha berkantong tebal yang lalai membayar pajak, namun program ini
justru ikut menyasar rakyat biasa yang selama ini membayar pajak, namun ada
harta yang nilainya tidak seberapa, namun belum dilaporkan, juga harus ikutan tax
amnesty.
Bagaimana pandangan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)?
"Oh semua pengusaha kan semua diminta yang belum laporkan kan diminta.
Yang kecil jumlahnya besar tapi kan yang kecil bayar kecil. Jadi hanya koreksi
Rp 10-20 juta tapi yang besar koreksinya bisa ratusan miliar. Tax amnesty
itu untuk semua yang merasa belum bayar pajak benar selama ini," kata JK,
usai membuka fun walk ulang tahun pasar modal, di Parkir lot 7 dan 8
SCBD, Jakarta Selatan, Minggu (28/8/2016).
Informasi saja, di jejaring sosial Twitter banyak bermunculan hastag
#stopbayarpajak dan sempat ramai, karena warga menilai program tax amnesty
ini tidak tepat sasaran. Padahal awalnya aturan tax amnesty ini
bertujuan untuk menambah pemasukan negara lewat laporan pajak yang baru.
Beberapa warga pun banyak yang mempertanyakan terkait tax amnesty.
Misalnya ada akun yang menyebut, 'Bila pajak yang digenjot kepada rakyat kecil
yang minim pendapatan, jadi apa kerja pemerintah untuk memakmurkan rakyatnya
#StopBayarPajak'.
Ada lagi yang mengatakan, 'buat apa bayar pajak, Jika Pensiunan yang sudah
tidak bekerja dan berpenghasilan, dikenakan Pajak Penghasilan #StopBayarPajak'.
Ada juga yang menyebut, 'tipu-tipu tax Amnesty. Janjinya untuk Pengusaha kaya
nyatanya untuk peras rakyat jelata! #StopBayarPajak'.
Akun Twitter lainnya berbunyi, '#StopBayarPajak Pastinya memeras Rakyat yang
sudah bayar PBB, Pajak STNK, Pajak Makanan, dipalakin lagi. Sadis Brooo'.
Yang lainnya mengatakan, 'utang luar negeri nambah, pengemplang pajak kakap
diampuni, mending rakyat #StopBayarPajak'.
Apa tanggapan JK?
"Ya di Twitter macam-macam lah. Kita nggak bisa kontrol," kata
JK.
(drk/drk)